Ketika Harta Dianggap Keberuntungan: Renungan tentang Hati yang Telah Rusak

Ilustrasi kontras antara tekanan utang kredit perkotaan dan ketenangan hidup sederhana yang dihubungkan oleh jembatan Hakikat Hidup.

“Apabila seseorang sudah menganggap bahwa mendapatkan harta benda dunia adalah keberuntungan, maka ketahuilah bahwa hati orang itu telah rusak.”

Pembuka

Ada kalimat hikmah yang singkat, tetapi menusuk jauh ke dalam: barang siapa sudah menganggap bahwa memperoleh harta benda dunia adalah keberuntungan, maka ketahuilah bahwa hatinya telah rusak.

Sekilas kalimat ini terdengar keras. Seolah-olah ia memusuhi kekayaan, mencela orang kaya, atau mengajak manusia menjauhi kerja dan usaha. Padahal tidak demikian. Kalimat ini bukan sedang menilai isi kantong seseorang, melainkan sedang menilai kedudukan harta di dalam hatinya. Yang dicela bukan hartanya, melainkan cara hati memandang harta.

Sebab itu, penting untuk membacanya dengan jujur — bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi untuk memeriksa diri sendiri.

Harta bukan tujuan, melainkan alat

Islam sama sekali tidak memusuhi harta. Al-Qur’an menyebut harta sebagai khair (kebaikan) dalam konteks yang terpuji, dan para nabi serta orang-orang saleh di sepanjang sejarah banyak yang diberi kekayaan: Nabi Sulaiman dengan kerajaannya, Nabi Yusuf yang mengelola perbendaharaan negeri, serta para sahabat seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf yang hartanya mengalir untuk perjuangan.

Rasulullah ﷺ bahkan pernah bersabda bahwa sebaik-baik harta adalah harta yang berada di tangan orang saleh — karena harta semacam itu menjadi alat untuk menegakkan kebaikan, menolong yang lemah, dan membangun peradaban.

Maka persoalannya bukan punya atau tidak punya. Persoalannya adalah: harta itu berfungsi sebagai alat, atau sudah naik kedudukan menjadi tujuan? Selama ia menjadi alat, ia membawa berkah. Begitu ia menjadi tujuan, ia mulai merusak.

Apa artinya “menganggap harta sebagai keberuntungan”?

Ungkapan “menganggap harta sebagai keberuntungan” menunjuk pada sebuah pergeseran definisi tentang apa yang disebut beruntung. Perhatikan tanda-tandanya dalam kehidupan sehari-hari:

  • Ketika seseorang menilai keberhasilan hidupnya terutama dari angka di rekening, jabatan, merek kendaraan, dan luas rumah.
  • Ketika kehilangan harta terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan kejujuran, kehormatan, atau kedekatan dengan Allah.
  • Ketika bertambahnya harta membuat seseorang merasa bertambah mulia, padahal belum tentu ia bertambah dekat kepada Allah — bisa jadi justru sedang diuji dengan kelapangan.
  • Ketika doa yang paling sering dipanjatkan adalah doa tentang dunia, sementara doa tentang hati yang bersih hampir tidak pernah terucap.
  • Ketika ukuran kebahagiaan orang lain ditentukan oleh seberapa banyak yang ia miliki, bukan oleh seberapa baik ia menjaga amanah.

Bila keberuntungan sudah didefinisikan ulang seperti itu, maka sesungguhnya bukan dunia yang berubah — melainkan pusat orientasi hati yang telah bergeser. Dan itulah yang dimaksud dengan hati yang rusak: bukan rusak dalam arti berhenti berdetak, melainkan rusak dalam arti kehilangan kemampuan mengenali nilai yang sejati.

Mengapa hati menjadi rusak?

Pertama, karena pandangan menjadi terbalik. Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, dan perhiasan yang menipu, sementara akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Ketika seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan dan akhirat sebagai pelengkap, ia telah membalik urutan yang Allah tetapkan. Hati yang memandang terbalik akan selalu salah menilai: yang fana dianggap abadi, yang sementara dianggap utama.

Kedua, karena tumbuh sifat-sifat tercela. Cinta harta yang berlebihan melahirkan ketamakan, kekikiran, ujub (bangga diri), hasad, dan riya. Orang yang hatinya dikuasai harta akan sulit berbagi, mudah iri, dan gemar memamerkan. Semua penyakit itu bukan datang dari luar, melainkan tumbuh dari dalam — dari hati yang telah menempatkan harta di singgasana yang seharusnya hanya milik Allah.

Ketiga, karena hati menjadi keras dan lalai. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa beliau tidak khawatir terhadap kemiskinan yang menimpa umatnya, tetapi beliau khawatir apabila dunia dibentangkan luas kepada mereka, lalu mereka berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana umat-umat sebelumnya, sehingga dunia itu membinasakan mereka. Kekhawatiran itu bukan tentang harta, melainkan tentang hati yang tersibukkan oleh harta sampai lupa kepada Pemilik harta.

Keempat, karena hak-hak yang lain terabaikan. Hati yang rusak oleh harta akan menghitung untung-rugi untuk sedekah, tetapi tidak pernah menghitung untung-rugi untuk bermaksiat. Ia teliti dalam menagih haknya, tetapi lalai dalam menunaikan hak orang lain.

Memeriksa diri: tanda-tanda yang perlu diwaspadai

  • Sulit bersyukur; selalu merasa kurang meski nikmat terus bertambah.
  • Sedekah terasa berat, tetapi membeli barang mewah terasa ringan.
  • Ibadah pun dikalkulasi dengan logika untung-rugi duniawi.
  • Gelisah luar biasa ketika harta berkurang, tetapi tenang saja ketika halal dan haram bercampur dalam penghasilan.
  • Menunda kebaikan dengan alasan “nanti kalau sudah kaya”.
  • Menghormati orang karena kekayaannya dan meremehkan orang karena kesederhanaannya.

Bila beberapa tanda ini ada pada diri kita, jangan langsung berputus asa. Justru kesadaran itu adalah pintu pertama menuju perbaikan.

Hati yang sehat seperti apa?

Al-Qur’an memberi nama untuk hati yang selamat: qalbun salim — hati yang bersih dan sehat. Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, hanya hati seperti inilah yang membawa keselamatan. Hati yang sehat bukan hati yang tidak memiliki harta, melainkan hati yang tidak diperbudak harta.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan kaya jiwa: hati yang merasa cukup, lapang, dan tidak bergantung pada apa yang ada di tangan manusia. Inilah qana’ah — sikap yang membuat seseorang tetap tenang ketika diberi dan tetap tenang ketika tidak diberi.

Orang yang hatinya sehat memandang harta dengan tiga cara sekaligus: sebagai nikmat yang patut disyukuri, sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan, dan sebagai alat untuk berbuat baik. Ia tidak menolak harta, tetapi ia juga tidak menjadikannya tuhan.

Cara merawat dan menyembuhkan hati

  1. Perbaiki definisi keberuntungan. Ukur keberhasilan dengan iman, amal saleh, akhlak, dan husnul khatimah. Harta dan anak adalah perhiasan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal itulah yang lebih baik pahalanya.
  2. Hidupkan zikir dan tilawah. Hati yang sering mengingat Allah akan sulit diisi oleh keserakahan, karena tidak ada ruang bagi dua tuan.
  3. Biasakan sedekah. Sedekah adalah obat paling ampuh untuk cinta harta; ia memotong akar kekikiran sedikit demi sedikit, terutama sedekah yang tidak diketahui siapa pun.
  4. Latih qana’ah dan hidup sederhana. Berhenti membandingkan diri dengan yang lebih kaya, dan mulailah melihat kepada yang lebih sederhana agar nikmat terasa.
  5. Pelajari halal dan haram dalam urusan harta. Keberkahan jauh lebih berharga daripada jumlah.
  6. Muhasabah setiap hari. Tanyakan: dengan harta yang ada, apa yang akan kujawab di hadapan Allah? Sudahkah ia menjadi jalan kebaikan, atau justru menjadi beban?
  7. Dekat dengan orang-orang saleh dan ingat kematian. Tidak ada yang lebih cepat menyadarkan tentang hakikat harta daripada kabar bahwa semuanya akan ditinggalkan.

Penutup

Harta akan tetap tinggal di dunia, sementara kita akan pergi menghadap Allah hanya dengan amal dan hati. Karena itu, ukuran keberuntungan yang benar bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa bersih hati yang kita bawa pulang.

Semoga Allah menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan di dalam hati kita; menjadikannya alat untuk mendekat kepada-Nya, bukan penghalang antara manusia dan Rabb-Nya. Amin.


Catatan: ungkapan pembuka di atas adalah hikmah yang maknanya sejalan dengan banyak petunjuk Al-Qur’an dan sunnah tentang bahaya cinta dunia serta pentingnya menjaga kebersihan hati.