Kategori: Pemikiran Manusia

  • Ketika Segala Pengajaran Ditiadakan: Hidup Kembali pada Dasar

    Ketika Segala Pengajaran Ditiadakan: Hidup Kembali pada Dasar

    Semua Bentuk Pengajaran Ditiadakan

    Segala bentuk pengajaran yang bertujuan membentuk pemikiran, keyakinan, atau sistem nilai—termasuk:

    • pengajaran filsafat,
    • pengajaran agama yang berbasis pada pemikiran filsafat,
    • konsep iman–islam–ihsan yang dikonstruksi secara sistematis,
    • pengajaran ideologi politik atau sosial,
    • pendidikan moral dan etika versi manusia,
    • pendidikan karakter,
    • pendidikan kewarganegaraan dan nasionalisme,
    • serta seluruh bentuk pendidikan yang berupaya “mengubah” atau “mengarahkan” manusia,

    ditiadakan.

    Alasannya sederhana: semua pengajaran tersebut tidak pernah menambah kemampuan manusia untuk hidup, melainkan hanya menambah perdebatan dan pembenaran terhadap keinginan-keinginan yang diciptakan oleh pikiran manusia sendiri. Ia menimbulkan lapisan-lapisan buatan di atas kenyataan hidup yang sebenarnya sederhana: makan, tidur, dan mempertahankan diri. Setiap sistem pengajaran, sejatinya, adalah upaya menguasai pikiran manusia dengan cara berbeda-beda—baik melalui kata “kebenaran”, “iman”, “moral”, atau “ideologi”—yang pada akhirnya menjauhkan manusia dari fungsinya sebagai makhluk hidup biasa.


    Ketika Semua Telah Tiada

    Ketika semua pengajaran itu dihapuskan, dan manusia tidak lagi diarahkan untuk menjadi “baik”, “pintar”, “beriman”, “berbudaya”, atau “berideologi”, maka yang tersisa hanyalah kebutuhan hidup biologis:

    • makan,
    • tidur,
    • mencari makan,
    • melindungi diri dari bahaya,
    • dan berketurunan.

    Banyak orang akan menemukan kedamaian di sini. Sebab untuk mencapai kecukupan dasar biologis saja, manusia sudah harus mengerahkan tenaga, waktu, dan umurnya. Ketika seseorang bisa makan dengan cukup, tidur dengan tenang, dan hidup aman tanpa ancaman, itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada lagi alasan untuk merasa kurang, karena seluruh sistem kehidupan alam memang berputar pada itu saja.


    Ketika Biologis Terpenuhi, Muncullah Kebosanan

    Namun setelah keperluan biologis terpenuhi, muncul kekosongan—atau lebih tepatnya kebosanan. Di sinilah manusia mulai mencari sesuatu untuk “mengisi waktu”. Dari titik inilah muncul berbagai kegiatan yang sebenarnya hanya pelarian dari kebosanan itu sendiri, seperti:

    • hiburan (musik, permainan, tontonan, dan seluruh bentuk distraksi),
    • belajar (bukan karena perlu, tapi karena bosan),
    • berkumpul (karena kesepian),
    • membentuk lembaga, komunitas, atau organisasi,
    • melakukan perjalanan atau rekreasi,
    • bahkan menciptakan “tujuan hidup” baru agar merasa berarti.

    Semua kegiatan tersebut muncul bukan karena kebutuhan nyata, tapi karena dorongan untuk menghindari diam dan kebosanan. Semakin tinggi tingkat kenyamanan hidup seseorang, semakin besar pula kebutuhannya untuk menciptakan hal-hal baru yang sebenarnya tidak perlu.


    Kesimpulan

    Pada akhirnya, dalam hidup ini tidak ada yang benar-benar mengikat. Tidak ada kewajiban universal, tidak ada “tujuan besar” yang harus dicapai, dan tidak ada sistem nilai yang harus diikuti.

    Manusia bebas untuk menginginkan apa pun—atau tidak menginginkan apa pun.
    Segala hal di luar urutan sederhana berikut:

    1. hidup secara biologis,
    2. memenuhi kebutuhan dasar,
    3. dan memiliki atau tidak memiliki keinginan,

    adalah beban tambahan yang diciptakan oleh pikiran manusia sendiri.

    Semakin banyak yang ingin dikontrol, diajarkan, atau diatur, semakin jauh manusia dari keseimbangannya yang alami. Hidup manusia sejatinya hanya tentang tubuh yang bernafas, makan, bergerak, beristirahat, dan pada akhirnya berhenti. Segala sesuatu di luar itu hanyalah upaya manusia untuk menyibukkan diri dari kenyataan bahwa hidup ini sebenarnya sangat sederhana.