Di sebuah kota yang tidak pernah benar-benar tidur, tinggal seorang pria bernama Raka. Ia bukan pejabat, bukan pula orang penting. Ia hanya sopir harian, yang setiap pagi harus memilih: mengisi bensin atau membeli sarapan untuk anaknya.
Suatu sore, ketika hujan turun tanpa kompromi, Raka berhenti di sebuah warung kecil. Televisi tua di sudut ruangan menyiarkan perdebatan—orang-orang berpakaian rapi, berbicara dengan kalimat panjang dan angka-angka yang tak pernah ia kenal.
“Subsidi langsung itu tidak tepat sasaran.”
“APBN harus dijaga, jangan dibagi-bagi seperti itu.”
“Kita harus mendorong efisiensi, bukan ketergantungan.”
Raka diam. Tangannya masih menggenggam gelas teh hangat, tapi pikirannya jauh.
Di sampingnya, seorang ibu tua mengeluh pelan kepada penjual warung, “Harga beras naik lagi ya, Pak?”
Penjual itu hanya mengangguk.
Raka menatap layar. Ia tidak mengerti istilah-istilah itu. Tapi ia mengerti satu hal: besok ia harus mengisi bensin agar bisa bekerja. Dan uangnya tidak cukup untuk semuanya.
Malam itu, ia pulang dengan langkah berat. Di rumahnya yang sempit, anaknya sudah tidur. Istrinya duduk di lantai, menghitung uang receh.
“Cukup?” tanya Raka.
Istrinya menggeleng pelan.
Tidak ada perdebatan di rumah itu. Tidak ada teori. Hanya angka sederhana: masuk dan keluar. Dan angka itu tidak pernah seimbang.
Keesokan harinya, Raka kembali bekerja. Ia melihat antrean panjang di SPBU. Wajah-wajah lelah, kendaraan tua, dan orang-orang yang sama seperti dirinya—hidup di antara keputusan yang tidak pernah mereka buat sendiri.
Di radio mobilnya, suara lain muncul.
“Kita harus berhenti memanjakan masyarakat dengan subsidi. Ini tidak sehat dalam jangka panjang.”
Raka mematikan radio.
Ia menatap jalan di depannya. Aspal panjang, panas, dan tidak pernah peduli siapa yang berjalan di atasnya.
Di lampu merah, seorang anak kecil mengetuk kaca mobil. Menjual tisu. Raka membuka jendela sedikit, membeli satu bungkus.
Anak itu tersenyum, lalu berlari ke mobil lain.
Raka memperhatikan. Dalam hati, ia bertanya—bukan dengan kata-kata rumit, hanya dengan rasa yang sederhana:
Jika orang-orang di televisi itu benar,
lalu siapa yang salah di jalan ini?
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson.
Raka melaju lagi.
Hari terus berjalan. Perdebatan terus berlangsung. Angka-angka terus diperdebatkan.
Tapi di jalan, di warung, di rumah-rumah sempit—tidak ada perdebatan.
Hanya satu kenyataan yang terus berulang:
Orang-orang seperti Raka tidak sedang meminta lebih.
Mereka hanya mencoba bertahan.
