Takwa yang Dipersempit: Ketika Mimbar Mengabaikan Realitas Transaksi

Ilustrasi khutbah tentang takwa yang abstrak dibandingkan dengan praktik kejujuran dalam transaksi di pasar

Di banyak khutbah, takwa sering didefinisikan sebagai kumpulan atribut internal: takut kepada Allah, menjaga hati, memperbanyak ibadah, dan berbagai kualitas personal lainnya. Pola ini terlihat konsisten—takwa diposisikan sebagai sesuatu yang berada di dalam diri, tidak terlihat, dan sulit diverifikasi.

Secara operasional, pendekatan ini menghasilkan satu konsekuensi: takwa menjadi konsep yang tidak bisa diuji dalam kehidupan nyata. Ia berhenti sebagai definisi, bukan sebagai mekanisme yang mengatur perilaku.

Padahal, dalam praktik sosial yang nyata, ukuran takwa justru muncul dalam cara manusia berinteraksi dan bertransaksi dengan sesama. Bukan pada klaim batin, tetapi pada tindakan yang memiliki dampak langsung:

  • Kejujuran dalam jual beli
  • Ketepatan dalam menunaikan kewajiban
  • Konsistensi dalam menepati janji
  • Keadilan saat memiliki kekuasaan
  • Penolakan terhadap pengambilan hak orang lain

Semua ini bersifat konkret. Bisa diamati. Bisa diuji. Dan langsung mempengaruhi stabilitas masyarakat.

Jika ditarik ke praktik awal, pola ini terlihat jelas pada masa Nabi Muhammad. Reputasi beliau tidak dibangun dari klaim spiritual yang abstrak, tetapi dari rekam jejak sosial yang konsisten—jujur dalam perdagangan, amanah dalam titipan, dan adil dalam interaksi. Gelar “Al-Amin” lahir dari sistem kepercayaan publik, bukan dari retorika.

Artinya, sejak awal, takwa berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial berbasis perilaku, bukan sekadar identitas personal.

Lalu mengapa banyak khutbah justru menggeser takwa menjadi konsep abstrak?

Jawabannya operasional:

  • Definisi internal tidak menuntut perubahan sistem sosial atau ekonomi
  • Tidak menyentuh konflik nyata seperti utang, bisnis, dan kekuasaan
  • Tidak bisa diverifikasi, sehingga aman dari kritik

Dengan kata lain, takwa dijadikan zona aman—dibicarakan, tetapi tidak mengganggu struktur yang ada.

Dampaknya terlihat jelas. Terjadi pemisahan antara ritual dan realitas:

  • Aktivitas ibadah meningkat
  • Tetapi pelanggaran dalam transaksi tetap berlangsung

Di titik ini, takwa berubah fungsi. Dari alat pengendali perilaku menjadi simbol identitas.

Jika takwa ingin dikembalikan ke fungsi aslinya, maka ukurannya harus dipindahkan kembali ke wilayah yang bisa diuji:

  • Bagaimana seseorang bertransaksi
  • Bagaimana ia memenuhi hak orang lain
  • Bagaimana ia bertindak saat memiliki posisi tawar

Kesimpulannya sederhana dan langsung:
Takwa bukan apa yang diucapkan di mimbar, tetapi apa yang dilakukan saat berhadapan dengan manusia lain.

Di situlah takwa menjadi nyata—terlihat, terukur, dan menentukan kualitas sebuah masyarakat.