Filsafat sejak awal menempatkan rasio sebagai ukuran utama dalam menilai segala sesuatu. Kemampuan berargumen dan penalaran dijadikan timbangan untuk menentukan benar dan salah, tanpa batasan selain kesepakatan manusia itu sendiri. Dari situ lahirlah sistem belajar yang memuja kecerdasan rasional: bahasa dipelajari dengan seksama, matematika dihitung dengan teliti, kemampuan berbicara dan retorika dijadikan kehebatan tertinggi. Maka terbentuklah kumpulan para “ahli logika” dan “lawyer” yang dengan kecakapannya berupaya sebisanya untuk membalikkan keadaan dan membuat orang lain tampak salah.
Namun di sinilah akar penyimpangannya. Kecerdasan yang diarahkan untuk selalu menjadi benar tidak menghasilkan kebijaksanaan, melainkan ketidaktoleranan. Ketika kebenaran diukur lewat kosa kata, logika, dan perhitungan matematis, yang dikejar bukan lagi nilai benar itu sendiri, melainkan status, kedudukan, dan harta. Dalam sistem seperti ini, hawa nafsu ikut beriringan dengan proses belajar, menjadikan manusia berlomba untuk menang, bukan untuk benar. Maka “toleransi” yang sering digaungkan untuk menutupi sifat itu menjadi mustahil tercapai, sebab manusia pada dasarnya memang ingin unggul dari yang lain.
Namun, kehebatan rasio dan kefasihan bicara tidak menjamin keunggulan sejati. Kekuasaan dan kehormatan tidak diberikan kepada mereka yang sekadar pandai berlogika atau lihai berkata-kata, melainkan kepada mereka yang pantas. Orang yang sibuk ingin selalu benar, gemar menyalahkan, dan bernafsu menunjukkan kepandaian, justru tidak layak untuk berkuasa. Seringkali, orang semacam itu terpuruk di dalam kehidupan modern yang menipu, rela menjadi apa saja — bahkan budak di sistem yang mereka puja — asalkan bisa menyalurkan kefasihan dan mempertahankan citra “pintar” yang dianggap sebagai puncak pencapaian dalam dunia filsafat.
Padahal, kebenaran sejati tidak lahir dari kefasihan berbicara. Justru seringkali, kefasihan digunakan untuk menutupi kenyataan. Kata-kata indah dapat menyembunyikan kebohongan, logika tajam dapat menutupi kezaliman. Oleh karena itu, tidak ada kebaikan dalam menjadikan filsafat dan seluruh turunannya sebagai sumber tatanan kehidupan. Sebab di balik kilau rasionalitas dan kefasihan, tersembunyi kesombongan manusia yang ingin selalu benar — dan di sanalah awal dari segala penyesatan.
